//
TAWURAN PELAJAR

Pandangan Umum Terhadap Penyebab Perkelahian Pelajar

REP | 06 July 2011 | 18:49 872 2 Nihil


Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan pada periode antara tahun 1997-1999, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya,
yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah.

Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.

Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu ataugeng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.

Contoh penyebab tawuran antar pelajar

Para pelajar bertawuran bukannya tanpa sebab. Penyebab tawuran umumnya adalah dendam. Dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi para siswa tersebut akan membalas perlakuan yang disebabkan oleh siswa sekolah yang dianggap merugikan seorang siswa atau mencemarkan nama baik sekolah tersebut. Namun dengan sebab apapun
kegiatan tersebut tentunya akan menyebabkan dampak yang negatif di berbagai pihak dan aspek. penyebab tawuran antar pelajar antara lain sebagai berikut:

A. Sebab karena dendam


Tawuran Pelajar, Bukti Gagalnya Pendidikan Karakter

Minggu, 9 Oktober 2011 – 5:13 WIB

| More

JAKARTA (Pos Kota)- Tawuran antar pelajar yang marak terjadi di Jakarta, salah satu penyebabnya adalah gagalnya pendidikan karakter di sekolah-sekolah.

Itu sebabnya, sekolah dalam hal ini guru perlu mencari solusi agar persoalan pendidikan karakter ini bisa ditanamkan  kepada setiap diri siswa.

Jika pendidikan karakter ini sudah tertanam pada setiap diri siswa, Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Hamka (Uhamka) Prof Suyatno yakin bahwa tidak hanya persoalan tawuran antar pelajar yang bisa terselesaikan.

“Nilai-nilai kesopanan, kerukunan dan penghargaan pelajar pun bisa diperoleh,” jelas Suyatno disela seminar nasional dan Kongres Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial (HISPISI) XII yang difasilitasi Uhamka, Sabtu (8/10).

Karena dalam pendidikan karakter, tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang bertanggungjawab, tetapi sekaligus mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan dalam hidup. Seperti nilai penghargaan pada guru dan orangtua, keimanan dan ketakwaan, ahklak mulia dan sebagainya.

Suyatno mengatakan bahwa pendidikan karakter yang selama ini diberikan bersifat integral dengan mata pelajaran lain. Tidak diberikan secara khusus kepada siswa. Padahal pendidikan karakter ini bisa diberikan secara khusus melalui ilmu-ilmu sosial.

“Sayangnya, dalam dunia pendidikan, ilmu sosial seperti kurang diminati oleh masyarakat,” lanjut Suyatno.

Ilmu sosial dikatakan Suyatno hanya akan dipandang oleh masyarakat jika pecah kerusuhan, muncul tawuran pelajaran dan tindak kekerasan lain. “Sepertinya ilmu sosial hanya sekedar menjadi pemadam kebakaran saja,” tambahnya.

Itu sebabnya, dalam Kongres HISPISI, Suyatno menilai perlunya upaya-upaya dari guru ilmu sosial untuk mendongkrak dan mengubah imej ilmu sosial ini. Bahwa ilmu sosial keberadaannya sejajar dan sama pentingnya dengan ilmu eksakta.

Seminar dan Kongres HISPISI tersebut menghadirkan Dirjen Dikti Djoko Santoso, Mantan Mendikbud Daoed Joesoef, mantan Ketua BSNP Yunan Yusuf, dan pengurus PP Muhammadiyah Dr Zamroni. (inung/dms)

foto: Tawuran brutal para  pelajar SMAN Negeri 6 Mahakam, Jakarta Selatan melawan wartawan, di Bulungan, beberapa waktu lalu.


Thread: Jakarta Selatan Bangun Posko Terpadu Anti Tawuran Pelajar

octhaviana

Junior Member

LENSAINDONESIA.COM: Maraknya aksi tawuran pelajar yang terjadi selama ini menjadi fokus perhatian stakeholder di Jakarta.
Agar aksi kenakalan pelajar itu tak membudaya, Pemerintah Kota Jakarta Selatan bersama Kecamatan Kebayoran Baru, Polsek Metro Kebayoran Baru dan SMA 70 dan SMA 6 Jakarta mendirikan sebuah posko terpadu di kompleks Gelanggang Olahraga Bulungan Jakarta Selatan.
Lokasi itu sengaja dipilih sebagai pendirian posko sebab kerap dijadikan tempat tawuran oleh pelajar.
“Posko ini dibangun untuk mengantisipasi gangguan keamanan, diantaranya tawuran pelajar,”kata Walokota Jakarta Selatan Anas Efendi, Selasa (14/2/2012).
Anas menyampaikan, posko terpadu itu dibangun secara swadaya. Dengan biaya sekitar Rp 55 juta.
Untuk memfungsikan posko, nantinya masyarakat hingga pelajar sekolah yang berada di lokasi itu akan mendapat tugas piket secara bergiliran.
“Posko terpadu ini dibuka 24 jam dan merupakan posko terpadu untuk mencegah tawuran yang pertama kali dibuat di Jakarta. Untuk siswa akan kita atur jadwal piketnya melalui pihak sekolah,”ujarnya.
Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol Maulana Hamdan berharap posko terpadu ini bisa memiliki pengaruh dalam pencegahan tawuran pelajar.
“Pendirian posko ini kita jadikan momentum. dengan harapan bisa bisa menyebar ke tempat lain,”kata maulana.
Menurut Maulana, permasalahan tawuran di daerah ini adalah karena faktor budaya bullying dan senioritas yang turun menurun.
“Tawuran yang sering terjadi ini karena adanya kurikulum tersembunyi yang sudah turun menurun, adanya budaya senioritas dan menjurus kepada bullying, yang apabila tidak ada upaya kerja sama dari guru, sekolah, komite dan unsur lain, maka aksi tawuran bisa terjadi,” imbuhnya.
Untuk mencegah terjadinya tawuran, Maulana berharap koordinasi antara Kepolisian dengan Pemkot Jakarta Selatan, Kondim 0504/JS serta tokoh masyarakat harus terus dilakukan.
Selain itu, sangsi terhadap pelaku tawuran juga harus dilakukan secara tegas oleh pihak sekolah maupun polisi sendiri.*winarko.


Tawuran pelajar dan solusinya

October 1, 2011 at 7:32 pm kartunmania 2 comments

<p>Your browser does not support iframes.</p>

Metrotvnews.com, Jakarta: Dua kelompok pelajar SMA terlibat tawuran di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, Kamis (29/9). Selain saling lempar, sejumlah pelajar tampak membawa senjata tajam. Tawuran dua kelompok pelajar itu bermula saat sekelompok pelajar yang menumpang sebuah truk diserang oleh kelompok pelajar lainnya dengan lemparan batu. .. more..

Tawuran pelajar yang terjadi akhir-akhir ini semakin membuat kita miris.. bukan hanya pengguna jalan yang merasa terganggu, namun masyarakat sekitar dimana kejadian tawuran tersebut juga sangat terganggu.. Selain mengganggu ketentraman masyarakat, kebiasaan ini membuat stress para orangtua… Bayangin bro, bagaimana nelangsanya perasaan orangtua ketika mendapati anaknya meninggal dengan menggenaskan gara-gara tawuran.. mati sia-sia dengan meninggalkan coreng hitam dimuka kedua orangtuanya…
So solusinya gimana? Jika si bro sekarang ini masih hoby tapuran, plisss mulai detik ini berhenti dong.. kasian mak lu.. bokap lu.. klo terpaksa gak bisa menghentikan kegiatan pukul memukulmu, masuk aja ke sasana tinju.. itu jauh lebih bermatabat bro… okey?

Jika rekan kartunmania punya usulan solusi lainnya, jangan malu-malu… share aja yak?
Read more: http://kartunmania.com/2011/10/tawuran-pelajar/#ixzz1nHjhktXO

Kegiatan Pembauran Antar Sekolah, Solusi Atasi Tawuran Pelajar

Nurvita Indarini – detikNews

Rabu, 21/09/2011 09:35 WIB

Browser anda tidak mendukung iFrame

Jakarta Sebelum pelajar SMA 6 tawuran dengan wartawan, mereka sebelumnya terlibat tawuran dengan pelajar SMA 70 Jakarta. Tawuran antar pelajar di Jakarta bukan kali ini saja terjadi. Ditengarai tawuran ini kerap muncul lantaran kurangnya kegiatan pembauran antar sekolah.

“Bukan mencari kambing hitam, tetapi salah satu penyebab tawuran adalah karena selama ini, pemerintah khususnya bidang pendidikan saya anggap selalu hanya melakukan mendukung acara pertandingan antar sekolah khususnya olah raga,” kata Abimanyu Wachjoewidajat, alumnus SMA 6 Jakarta, dalam surat elektroniknya, Rabu (21/9/2011).

Menurut dia, pertandingan antar sekolah tanpa disadari selalu menyulut dendam dan emosi di pihak yang kalah. Sayangnya, tidak ada acara apa pun setelah pertandingan-pertandingan semacam itu digelar guna membuat semua pihak melupakan siapa yang menang atau kalah. Padahal acara ini penting agar para pelajar yang berkompetisi dalam pertandingan, bisa kembali dalam kebersamaan.

“Pemerintah juga tidak pernah membuat pembauran antar sekolah misal membuat proyek-proyek gabungan beberapa sekolah (futsal, basket, voli, karya-karya teknologi, biologi, kimia dan lain-lain) di mana dengan pembauran tersebut, maka masing-masing sekolah yang terlibat justru akan bersatu demi kebersamaan, dan tidak ada lagi persaingan antar sekolah. Solusi semacam ini sangat laik dipikirkan (kalau pemerintah mampu dan mau),” tutur pria yang juga pengamat telematika ini.

Abimanyu mengatakan, SMA 70 adalah sekolah yang lahir dari penggabungan SMA 9 dan SMA 11. Penggabungan kedua SMA ini membuat SMA 70 saat itu memiliki siswa sebanyak 6.000 orang. “Ini berarti kedua terbesar di dunia untuk suatu SMA,” ucap pria yang akrab disapa Abah ini.

Jika SMA 6 juga digabung dengan SMA ini, menurutnya, SMA itu akan menjadi yang terbesar di dunia. “Lalu apakah itu prestasi? Tidak sama sekali. Ini bukan partai, ini lembaga pendidikan yang tentu tidak akan efektif dan kembali akan menghadapi kasus tawuran. Bila SMA 6 diubah menjadi tempat bisnis (mal atau apa pun), bayangkan betapa beruntungnya pebisnis tersebut,” tuturnya.

Bagi Abah, solusi terbaik bukan dengan menggabungkan kedua SMA itu untuk meniadakan tawuran kedua sekolah itu, namun dengan membuat kegiatan pembauran antar sekolah. Dengan begitu pelajar antar sekolah akan lebih memiliki kebersamaan.

Diketahui sebelumnya, wartawan dan SMA 6 Jakarta terlibat bentrok di depan SMA tersebut pada Senin (19/9) kemarin. Menurut Kadiv Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Baharudin Djafar, 5 wartawan menjadi korban dan 7 siswa SMA 6 menjadi korban.

Aksi ini bermula saat wartawan Trans7 mengalami penganiayaan saat melakukan aktivitas jurnalistik pada Jumat (16/9). Reporter Oktaviardi mengambil gambar saat anak-anak SMA 70 dan SMA 6 tawuran di sekitar kawasan Blok M.

Oktaviardi kemudian dikeroyok oleh sejumlah siswa berseragam tersebut. Tak hanya dikeroyok, kaset rekaman berisi tawuran antar pelajar itu pun ikut dirampas.

(vit/nwk)

Jum’at, 07 Oktober 2011 , 13:22:00

Catatan Dialog Interaktif ‘Mencari Solusi Tawuran Pelajar’
Sekolah tak Tegas, Tujuh Nyawa Melayang Sia-sia

Tawuran pelajar telah mencoreng dunia pendidikan di Bogor. Tindakan anarkis itu mengakibatkan tujuh nyawa pelajar melayang sia-sia, puluhan luka-luka dan sejumlah fasilitas umum rusak, termasuk kendaraan umum dan mobil pribadi.
—–

Pemicu kenakalan remaja, khususnya di kalangan pelajar, rupanya cukup banyak. Selain kurangnya perhatian dan pembinaan dari guru dan orangtua, juga karena adanya warisan buruk dari pelajar senior yang sudah lulus.

Para senior itu telah mendoktrin adik-adiknya agar melakukan aksi balas dendam kepada sekolah yang menjadi musuh bebuyutannya. Selain itu, tawuran pelajar dianggap tren yang dapat membuat para siswa tampil seperti jagoan. Bahkan, tak sedikit pula tawuran pelajar meledak karena dipicu masalah lawan jenis.

Terhitung sejak awal 2011, tak kurang dari tujuh pelajar menjadi korban tawuran. Angka ini belum termasuk korban luka-luka.

Kondisi ini membuat miris keberlangsungan generasi muda sebagai penerus harapan dan cita-cita bangsa. Sebab, perilaku mereka mulai meresahkan warga dan bahkan tak menunjukkan sikap serta moral yang baik.

Kemarin, berbagai elemen terkait Dinas Pendidikan, Satgas Pelajar, MKKS, BEM UIka, Polres Bogor Kota dan Komisi D DPRD, menggelar dialog interaktif di lantai 5 Gedung Graha Pena Radar Bogor untuk membahas dan mencari solusi mengatasi tawuran pelajar yang semakin marak.

Kabid Pendidikan Menengah, Ari Sarsono Budiharjo mengatakan, selama ini Dinas Pendidikan selalu merespons berbagai hal guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satunya mengapresiasi keberadaan Satgas Pelajar yang juga menjadi garda terdepan dalam mengatasi tawuran pelajar.

Namun, masalahnya, tak semua anggota satgas bisa aktif karena mereka berasal dari tenaga pengajar dengan waktu aktif hanya lima hari kerja.

“Tugas satgas memang sangat berat. Saat ini, satgas menjadi bahasan dalam diskusi internal Disdik. Bahkan, ketika berkoordinasi dengan berbagai elemen, satgas juga selalu menjadi pokok bahasan,” ujarnya.

Ari tak menampik salah satu penyebab kenakalan pelajar adalah kurangnya pendidikan karakter. Karena itu, mantan guru SMAN 2 Bogor ini mengusulkan beberapa tindakan preventif untuk mencegah kenakalan remaja.

Antara lain, menggencarkan kegiatan pramuka untuk membentuk karakter. Selain itu, memkasimalkan peran aktif wali kelas untuk melakukan pendekatan personal kepada anak yang selalu terlibat tawuran.

“Jadi, harus ada koordinasi antara sekolah dan berbagai elemen, seperti wali kelas untuk memberikan pendidikan karakter melalui berbagai program sekolah,” tukasnya.

Namun, usulan dan pernyataan Ari dikritik Ketua Harian Umum Satgas Pelajar, TB Ruhjani. Menurut pria berdarah Banten ini, satu-satunya jalan untuk menekan kenakalan remaja adalah tindakan tegas dari sekolah.

“Sebaiknya Disdik lebih tegas kepada sekolah agar memberikan sanksi kepada anak didiknya. Contohnya, jika kedapatan membawa senjata tajam, sebaiknya langsung dikeluarkan dari sekolah,” tuturnya.

Menurut dia, sekolah jangan merasa malu jika ada anak didiknya yang terlibat tawuran kemudian dikeluarkan. Dengan tindakan tegas seperti itu, penilaian masyarakat justru akan bagus karena sekolah bertindak tegas.

Hanya permasalahannya, kata dia, apakah hal tersebut bisa ditegakkan di seluruh sekolah atau tidak, khususnya sekolah swasta yang bukan tanggung jawab Disdik secara keseluruhan.

Sekretaris Komisi D DPRD Kota Bogor, Yusuf Dardiri, mengatakan, ada beberapa alternatif untuk mengatasi kenakalan remaja yang saat ini masih banyak melibatkan Satgas Pelajar dalam penanganannya.
“Pertama, lembaga satgas harus berada di bawah Disdik agar pengaturannya jelas melalui peraturan walikota (perwali). Pilihan kedua, satgas bisa dijadikan LSM biasa yang beroperasi secara wilayah.

Dengan begitu, satgas bisa mendapatkan dana operasional dari hibah atau bansos,” ujar politisi PKS ini.

Alternatif terakhir, satgas dibentuk dari berbagai elemen, bahkan perlu tim lintas sektoral. Lagi-lagi harus disahkan dengan perwali.

Tiga alternatif tersebut, sambung Yusuf, merupakan langkah rekomendasi dalam mengawasi serta menjadi solusi sementara dalam penanganan kenakalan remaja, khususnya pelajar. (mia)

Re: [IGI] Tawuran Pelajar di Jakarta Kian Mengerikan

Sejatinya saya tidak 100% melarang siswa tawuran. Namun, jika ingin berkelahi, ya berkelahilah sesuai aturan perkelahian. Seperti masanya anak-anak, remaja, berkelahi itu dorongan emosional yang penyebabnya bahkan nyaris tak masuk akal. Gara- gara kesenggol sedikit saja berkelahi. Karena dicemooh, tawuran. Berkelahilah secara jantan, tanpa melukai apalagi membunuh. Duel saja. Jangan sampai menyakiti, melukai, membunuh, dst. Lebam-lebam sedikit wajarlah.

Wah pak habe menganjurkan kekerasan. Gak konsisten. Saya mengikuti kaidah fiqh saja. Untuk mencegah kematian, maka dibolehkan sekadar berlatih tinju, cubit-cubitan, atau tampar-tamparan. Selanjutnya, jika emosional sudah reda, jangan ada dendam, resapi hikmahnya dan rangkulanlah untuk selanjutnya saling bekerjasama.

Karena kita melarang perkelahian yang santun dan terhormat, maka perkelahian menjadi brutal dan menciderai, melukai, bahkan membunuh.

Melampiaskan emosi dengan memukul sesuatu yang perlu dilatihkan agar pemukulan teratur:

1. Tidak melukai

2. Tidak menciderai

3. Tidak pada tempat2 yg berbahaya dan mengganggu penampilan (wajah misalnya)

4. Tidak membahayakan

5. Bertujuan hanya “memberi kejutan perhatian.”

6. Motifnya untuk kebaikan

7. Tidak keras dan mengentak

Dengan adanya ukuran, pemukulan akan terukur.

Salam
Habe

Revolusi Putih: mengganyang kebodohan, mencerdaskan bangsa


From: “Satria Dharma” <satriadharma2002@…>

Ini tulisan yg menarik sekaligus menggugat. Jika ditulis ulang dengan fakta dan data maka akan layak muat di media mana pun.

Ayo Pak Halim…! Tuntut keamanan siswa (sekaligus anak-anak kita) ketika mereka berada di luar rumah dan sekolah. Tuliskan argumen Anda.

Salam
Satria Dharma


From: ahalim falatehan <ahalimfalatehan@…>

Bung habe, kita mengenal hak dan kewajiban. di rumahnya seorang warganegara ditanggung keamanannya oleh orang tua. di sekolah oleh guru, dan di luar oleh siapa? kejadiannya di tempat umum, maka kita kembalikan kepada UU kepolisian. Kepolisian mepunyai fungsi menciptakan  keamanan dan ketertiban serta pengayoman kepada masyarakat. lembaga ini yang harus bertanggung jawab. untuk melaksanakan fungsinya polisi diberi kewenangan berbagai cara seperti patroli, dsb. maaf pa kapolri anak buahnya kok banyak mengurusi administrasi saja di kantor, atau rubung-rubung saja di tempat yang aman. apa tidak tahu intelnya sekolah-sekolah yang sering twuran. di situlah polisi wajib ada. jangan ada alasan kurang orang karena anggaran untuk kepolisian besar dan personilnya juga banyak. tempatkan personil pada jam-jam tertentu di tempat-tempat terpilih utuk menjaga keamanan. insya allah warga negara terutama pelajar akan aman pulang tanpa ketakutan diserang kelompok lain. kelompok yang akan menyerang akan pikir-pikir seribu kali apabila polisi ada di tempat itu. ini resep ces pleng sesuai  undang-undang yang harus diaksanakan oleh kepolisian.jangan menunggu korban lebih banyak lagi pa kapolri !!!! <ahalim falatehan>


From: habe arifin habearifin@…

Revolusi Putih: mengganyang kebodohan, mencerdaskan bangsa

Reply-To: koran-digital@googlegroups.com

Subject: [Koran-Digital] Tawuran Pelajar di Jakarta Kian Mengerikan

Seorang pelajar tewas dalam tawuran yang terjadi di Jalan KH Hasyim  Ashari, perbatasan antara Jakarta Pusat dan Jakarta Barat, kemarin sore.  Rifal, 16 tahun, siswa kelas II Sekolah Menengah Kejuruan Boedi Oetomo, tewas tersabet celurit di dadanya.

Ya, Allah, apa salah anak saya? Dia itu anak pintar dan tidak suka  macam-macam,”kata ibunya, Nana, yang menangis histeris di Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta Barat.

Rifal, yang dua hari lagi akan berulang tahun, disergap oleh sekelompok siswa dari sekolah lain ketika sedang berada dalam bus rute  SenenKalideres. Gerombolan pelajar itu menghadang bus di atas jalan
layang, di dekat ITC Roxy Mas.

Daus, pelajar SMK Boedi Oetomo, mengungkapkan, Rifal sempat berlari.  Saat itu posisi Rifal ada di belakangnya. “Tapi dia terjatuh dan pelaku langsung mencelurit,” katanya. Setelah melukai Rifal, kelompok pelajar itu lalu kabur.

Rifal kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Sumber Waras.

Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Metropolitan Gambir  Komisaris Taufiq mengatakan Rifal tewas setelah kehabisan darah. Polisi  telah menangkap seorang pelajar tapi pelaku utamanya masih dalam pengejaran, ujar Taufiq. Tawuran di Jakarta telah meminta banyak korban. Awal November lalu,
tawuran di Jakarta Pusat juga menyebabkan Intan Pratiwi, pelajar putri  Sekolah Menengah Atas 10, tewas. Pelakunya, sebut saja namanya Dimas, pelajar SMK 35, mengaku salah tebas karena yang diincar adalah Rahman, pelajar SMK Boedi Oetomo, yang sedang memboncengkan Intan. Dimas mengaku
tak mengenal Rahman. Hanya, dia menambahkan, pelajar di sekolahnya  sering berantem dengan pelajar sekolah Rahman di Pintu Air, di dekat Hotel Sheraton, Gunung Sahari. Bukan cuma dua sekolah itu, kelompok sekolah lain juga disebutkannya suka terlibat tawuran di lokasi tersebut.“Penyulutnya bisa macammacam.
Misalnya, berantem di grup Facebook, terus mengancam, Awas lu. Kalau  ketemu di jalan, bisa jadi bentrok,”katanya.

Dimas mengaku celurit yang dia bawa milik salah satu anggota gengnya.  Selain bermodal celurit, gengnya kerap menyiramkan air keras dalam tawuran. ● ARYANI KRISTANTI

http://epaper.korantempo.com/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/11/25/ArticleHtmls/Tawuran-Pelajar-di-Jakarta-Kian-Mengerikan-25112011005013.shtml?Mode=1

Dengan Anggaran Pendidikan Rp 8 Triliun

Tawuran Pelajar di Jakarta Harusnya Bisa Diatasi

Selasa, 11 Oktober 2011 – 7:46 WIB

| More

JAKARTA (Pos Kota) – Kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta meminta solusi untuk menghilangkan kebiasaan tawuran antarpelajar. Karena, dengan anggaran yang besar untuk pembinaan, perkelahian pelajar sebenarnya mampu diatasi dengan baik.

“Dana ABPD DKI yang dikucurkan untuk pendidikan mencapai Rp8 triliun untuk membiayai pengelolaan pendidikan di DKI Jakarta. Dana sebesar itu harus mampu meningkatkan kualitas dan perilaku siswa,” ujar Ditian Corisa, anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta .

Ia mengatakan adanya tawuran antarpelajar di sejumlah sekolah bukti ada yang salah dalam pembinaan mentalitas siswa. Anggota DPRD dari Fraksi Demokrat ini menegaskan DKI Jakarta sebagai ibukota negara seharusnya menjadi contoh dan panutan bagi daerah lain dalam hal kualitas guru dan prilaku siswa.

PRIORITAS UTAMA

Penyelenggaraan program pendidikan yang berkualitas dan padat dengan kegiatan ekstrakulikuer harus menjadi prioritas utama. “Jika perlu kegiatan itu dilaksanakan hingga sore sehingga tidak ada peluang dan waktu bagi siswa untuk tawuran,” jelasnya.

Anggota Komisi E lainnya Achmad Nawawi berharap eksekutif mengeluarkan inovasi yang kreatif dalam penanggulangan tawuran. Pemprov perlu membuat program pembinaan atau kegiatan di luar sekolah bagi siswa di sekolah yang sering terlibat tawuran. “Adanya kegiatan bersama akan mampu mengurangi tawuran di DKI Jakarta. Interaksi positif antara sekolah sangat dibutuhkan,” tegasnya. (guruh/b


Tawuran adalah Realita Pelajar Indonesia

OPINI | 25 September 2011 | 10:39 Dibaca: 937   Komentar: 0   Nihil

Tawuran adalah Realita Pelajar Indonesia | Pelajar sudah seharusnya menuntut ilmu dengna belajar, ingat tujuan utama kalian sekolah ! yaitu menuntut ilmu setinggi langit, bahagiakan orang tua dan raih cita-cita. Bukan untuk meninggikan emosi dan sifat egois dalam diri yang akhirnya anarkis membunuh nurani kalian.

Jika mengingat cita-cita dan harapan bangsa terhadap pelajar yang menginginkan pelajar Indonesia menjadi penerus dan ujung tombak pergerakan dalam kemajuan dan ketentraman bangsa, namun harapan itu sangat kontras dan berbanding terbalik dengan realita yang ada saat ini. Masih heboh berita di pelbagai media tentang tauran pelajar SMAN 6 Jakarta, apakah seperti itu jiwa para pelajar Indonesia dewasa ini?

Tawuran pelajar tidak terjadi satu atau dua kali di Indonesia, melainkan sudah terjadi puluhan bahkan ratusan kali. Apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan yang teramat sering terdengar beritanya tentang tawuran pelajar disana. contohnya saja di Jakarta, sudah terjadi 157 kasus pada tahun 1992, mengalami peningkatan Tahun 1994 menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas (Bimmas Polri Metro Jaya), Pada 2010, tawuran pelajar tercatat berjumlah 28 kasus, sedangkan pada periode Januari – Agustus 2011, tawuran pelajar di Jakarta sudah tercatat sebanyak 36 kasus, dengan wilayah paling banyak di Jakarta Pusat (tempo). Dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan intensitas tawuran pelajar, apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia? dimana guru dan kepala sekolah serta pemerintah ?

Perkelahian dari zaman batu sampai zaman teknologi canggih-pun tetap saja merugikan, fasilitas umum hancur, mobil dan sepeda motor milik orang lain juga jadi korban aksi anarksi ini, kegiatan belajar mengajar terhenti, dan yang sangat mengkhawatirkan adalah hilangnya rasa persaudaraan, nilai-nilai budi pekerti luhur antar sesama pelajar. padahal kekerasan sama sekali tidak ada untungnya, melainkan sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Faktor yang menjadikan seringnya tawuran pelajar ini bukan hanya dilihat dari satu sisi, melainkan banyak hal yang harus diperhatikan dalam menentukan faktor tersebut, diantaranya yaitu faktor psikologis, budaya, sosiologis dan rambu-rambu dalam sekolah.

Pelajar sudah masuk dalam kategori remaja, dan di kategori remaja inilah psikologi mereka sangat melonjak tajam, kenakalan remaja terlalu sering diperbincangkan, memang seperti itu. emosi yang sering meledak-ledak, rasa ingin hidup bebas, dan lain-lain. faktor psikologi inilah yang menjadi faktor utama terjadinya perkelahian atau tawuran pelajar. ditambah lagi faktor budaya di kalangan pelajar, hedonisme sudah menjadi budaya anak muda dan remaja, gaya ingin menikmati hidup dengan berfoya-foya dan melakukan hal yang melanggar hukum dan agama sekalipun demi terpuaskannya nafsu mereka. selanjutnya adalah pembentukan komunitas, kelompok atau geng untuk memperkuat pencitraan dan proteksi diri.

faktor lainnya seperti faktor internal, keluarga, ekonomi dan faktor lingkungan juga andil dalam mempengaruhi diri pelajar. pelajar yang tidak bisa menahan kesabaran mereka karena selalu diolok dari keluarga si miskin, akhirnya mereka berusaha mencari sesuatu yang bisa menjadikan tameng atau tempat berlindung, disinilah geng atau komunitas bergerak, berusaha melindungi anggota geng mereka. lingkungan tempat tinggal mereka juga mempengaruhi kepribadian, pelajar yang hidup di lingkungan agamis, cenderung jauh dari tawuran pelajar, sedangkan pelajar yang hidup di lingkungan texas atau lingkungan preman, maka kekerasan adalah hal biasa untuk mereka.

satu lagi yaitu faktor sekolah, sekolah jangan dijadikan sebagai tempat pencekokan teori-teori, untuk menjadikan pelajar bisa meraih jabatan di pekerjaannya kelak, demi eksistensi dan pencitraan sekolah tersebut, melainkan menjadi tempat belajar yang kondusif dengan menekankan pada proses, bukan pada hasil. karena, kemampuan pelajar untuk menyerap ilmu itu relatif atau berbeda tiap individu.sekolah juga harus memiliki tata tertib yang tegas, tidak loyo. karena tata tertib atau peraturan inilah yang akan membuat pelajar disiplin, jangan lupa pula tingkatkan pendidikan akhlak mereka karena tanpa itu, semua sia-sia.

Kalian adalah pelajar Indonesia, sudah seharusnya berusaha untuk menggapai cita-cita, berusaha membahagiakan orang tua yang sudah banting tulang membiayai pendidikan kalian. jangan sampai image Tawuran adalah Realita Pelajar Indonesia melekat pada diri kalian, pelajar Indonesia harus mampu membuktikan bahwa kalian bisa, singkirkan sifat egois dan emosi tinggi, demi tercapainya cita-cita | Tawuran adalah Realita Pelajar Indonesia

Salam “Coretan Anak Kampung

Anak Indonesia Masih Tawuran Terus

https://www.facebook.com/groups/millennial/permalink/619236898157909/

Oleh : Harry Santosa

Sebagian dari anak Indonesia masih tawuran setiap minggu, tetapi berita tentang ekskul yang satu itu sepertinya lebih jarang. Apa disengaja tidak masuk media terlalu banyak? Tadi saya lihat info tentang tawuran di Ps Minggu kemarin, jadi saya coba cek di YouTube lagi. Ternyata tetap ada banyak video yang baru. Banyak anak sekarang menjadi juru kamera ketika tawuran terjadi, dan hasilnya di-upload ke YouTube. Penonton di jalan juga bisa puluhan anak. Jadi puluhan sampai ratusan anak ikut tawuran, puluhan anak lain nonton, dan ratusan ribu lihat di YouTube. Orang tua, guru, Polisi dan Kemenkominfo diamkan saja.

Berapa banyak anak hidup seperti ini setiap minggu, tetapi orang tuanya, gurunya dan Polisi tidak tahu (dan mungkin juga tidak mau tahu)? Kenapa tidak dibuat nomor telfon khusus untuk laporkan tawuran (untuk Jakarta dulu). Misalnya tinggal telfon 123 dari HP, sebutkan lokasi, dan Polisi akan segera datang. Tapi kalau Polisi datang, apa yang mereka lakukan? Biasanya hanya teriak2 saja, sehingga anak itu bubar dan kabur, agar bisa kembali lagi besok. Dan kalaupun dulu Polisi berhasil menangkap puluhan anak, dan bawa ke Polsek, biasanya juga diserahkan ke orang tua saja, dan minggu depan bisa kembali lagi tawuran. Jadi solusinya apa? Berapa anak Indonesia perlu dibacok sebelum ada yang mau bertindak untuk mencari solusi?

Apa kira-kira yang melintas di pemikiran seorang anak SMP atau SMA ketika dia siap berangkat ke sekolah di pagi hari, dan bawa celurit, gir atau pedang samurai? Mau berangkat sekolah, harus pastikan sudah bawa PR, kotak pensil, buku teks matematika… DAN CELURIT? Anak seperti apa itu? Kenapa bisa ada ribuan anak seperti itu yang hidup di tengah kita? Apa yang salah di dalam proses pendidikan dan pendidikan agama sehingga mereka bisa berpikir bahwa membawa celurit ke sekolah untuk membacok anak remaja yang lain adalah hal yang “biasa”??

Puluhan juta orang tua merasa “tidak berdaya” untuk menghentikan kegiatan ini, alias orang tua dan guru merasa tidak sanggup mendidik anak didiknya. Beginilah generasi berikut. Anak2 yang tidak ikut tawuran tetap tahu bahwa itu terjadi, tapi tidak mau lapor ke orang tua atau guru, karena takut nanti mereka sendiri akan dimusuhi oleh teman sekolah. Jadi semua anak dapat pelajaran: “Anak yang paling keras dan sadis selalu akan menang, dan orang tua, guru dan Polisi tidak bisa melindungi kamu! Hukum negara tidak berlaku bagi anak sekolah! Hukum rimba yang berlaku!”
Jadi semua pihak diam dan membiarkan sebagian dari anak Indonesia membentuk cara pikir yang keras dan sadis. Anak ini akan menjadi orang tua dan pemimpin seperti apa nanti?

Dalam banyak video, nama sekolah disebut dengan jelas, muka anak kelihatan dengan jelas, tapi tidak pernah ada berita polisi masuk sekolah untuk mencari anak ini, lalu menahan mereka dan serahkan ke suatu pihak yang bisa melakkan tindakan nyata untuk membina mereka. Juga tidak ada berita bahwa guru atau orang tua mencari anak ini dan berusaha membinanya sebelum ada anak sekolah lagi yang dibacok atau dibunuh. Kalau mau serius mencari anak ini, foto anak dan nama sekolah bisa ditempatkan di sebuah website, dan polisi bisa minta anak lain dan publik untuk memberikan info nama anak di foto itu ke polisi lewat laporan di website. Tapi sepertinya belum pernah ada tindakan proaktif seperti itu dari polisi atau pemerintah. Hanya bertindak secara serius (untuk 1-2 minggu) setelah ada anak yang dibunuh (seperti di Bulungan setahun yang lalu). Dan setelah tidak menjadi berita heboh lagi, dilupakan saja.

Ini hanya beberapa video yang baru dari tahun ini. Jumlah penonton belum banyak. Video tawuran dari 1-2 tahun yang lalu sudah mendapatkan ratusan ribu penonton. Tahun 2012 saya pernah pasang post seperti ini di blog, dengan banyak contoh dari YouTube. Semua links yang saya berikan itu masih ada dan tidak dihapus oleh Polisi atau Kemenkominfo, padahal menunjukkan kekerasan dan pelanggaran hukum oleh anak di bawah umur. (Seharusnya fakta itu saja memberikan alasan untuk minta YouTube menghapus video itu. Ternyata tidak ada yang berubah). Anak ini sepertinya menjadi BANGGA dengan kekerasan yang mereka lakukan, dan semua orang dewasa dalam kehidupan mereka tidak bisa mencegahnya.

Wassalam,
Gene Netto

Hut Zerman 24 vs ZackTeam 809
https://www.youtube.com/watch?v=nbJqPW2jlCs

Ultah SMP 251 (Irak) Vs SMP 257 (ZhigoSeven)
https://www.youtube.com/watch?v=YNFR65RVszM

STM BHATRIX 492 VS CAMP JAVA 7 + GEMBELAN + WARGA
https://www.youtube.com/watch?v=GrDgnpOhnnU

SMK TRI KARYA VS SMK AN-NUR KLAPANUNGGAL. (di Bogor.)
https://www.youtube.com/watch?v=sxGJ3iuPMiE

Dos’q_5 feat Smk OneChiep 28 vs kartika chandra
https://www.youtube.com/watch?v=RaaboymdhxY

CORDOVA feat PSKD3 vs HUT STM 12 PLO+ ALUMNI
https://www.youtube.com/watch?v=7VNiwjhrUIU

HUT 58 BAMBU APUS TEMBUSIN ZERMAN 24 PASAR REBO (04 MARET 2014)
https://www.youtube.com/watch?v=uroPuQA1QMY

Kalau mau lihat post saya dari 2012 tentang masalah ini, ada di sini. Belum ada perubahan dalam 2 tahun terakhir.
Ratusan Video Tawuran Pelajar di YouTube
http://genenetto.blogspot.com/2012/10/ratusan-video-tawuran-pelajar-di-youtube.html

Anak Indonesia Masih Tawuran Terus</p>
<p>Sebagian dari anak Indonesia masih tawuran setiap minggu, tetapi berita tentang ekskul yang satu itu sepertinya lebih jarang. Apa disengaja tidak masuk media terlalu banyak? Tadi saya lihat info tentang tawuran di Ps Minggu kemarin, jadi saya coba cek di YouTube lagi. Ternyata tetap ada banyak video yang baru. Banyak anak sekarang menjadi juru kamera ketika tawuran terjadi, dan hasilnya di-upload ke YouTube. Penonton di jalan juga bisa puluhan anak. Jadi puluhan sampai ratusan anak ikut tawuran, puluhan anak lain nonton, dan ratusan ribu lihat di YouTube. Orang tua, guru, Polisi dan Kemenkominfo diamkan saja.</p>
<p>Berapa banyak anak hidup seperti ini setiap minggu, tetapi orang tuanya, gurunya dan Polisi tidak tahu (dan mungkin juga tidak mau tahu)? Kenapa tidak dibuat nomor telfon khusus untuk laporkan tawuran (untuk Jakarta dulu). Misalnya tinggal telfon 123 dari HP, sebutkan lokasi, dan Polisi akan segera datang. Tapi kalau Polisi datang, apa yang mereka lakukan? Biasanya hanya teriak2 saja, sehingga anak itu bubar dan kabur, agar bisa kembali lagi besok. Dan kalaupun dulu Polisi berhasil menangkap puluhan anak, dan bawa ke Polsek, biasanya juga diserahkan ke orang tua saja, dan minggu depan bisa kembali lagi tawuran. Jadi solusinya apa? Berapa anak Indonesia perlu dibacok sebelum ada yang mau bertindak untuk mencari solusi?</p>
<p>Apa kira-kira yang melintas di pemikiran seorang anak SMP atau SMA ketika dia siap berangkat ke sekolah di pagi hari, dan bawa celurit, gir atau pedang samurai? Mau berangkat sekolah, harus pastikan sudah bawa PR, kotak pensil, buku teks matematika… DAN CELURIT? Anak seperti apa itu? Kenapa bisa ada ribuan anak seperti itu yang hidup di tengah kita? Apa yang salah di dalam proses pendidikan dan pendidikan agama sehingga mereka bisa berpikir bahwa membawa celurit ke sekolah untuk membacok anak remaja yang lain adalah hal yang “biasa”??</p>
<p>Puluhan juta orang tua merasa “tidak berdaya” untuk menghentikan kegiatan ini, alias orang tua dan guru merasa tidak sanggup mendidik anak didiknya. Beginilah generasi berikut. Anak2 yang tidak ikut tawuran tetap tahu bahwa itu terjadi, tapi tidak mau lapor ke orang tua atau guru, karena takut nanti mereka sendiri akan dimusuhi oleh teman sekolah. Jadi semua anak dapat pelajaran: “Anak yang paling keras dan sadis selalu akan menang, dan orang tua, guru dan Polisi tidak bisa melindungi kamu! Hukum negara tidak berlaku bagi anak sekolah! Hukum rimba yang berlaku!”<br />
Jadi semua pihak diam dan membiarkan sebagian dari anak Indonesia membentuk cara pikir yang keras dan sadis. Anak ini akan menjadi orang tua dan pemimpin seperti apa nanti?</p>
<p>Dalam banyak video, nama sekolah disebut dengan jelas, muka anak kelihatan dengan jelas, tapi tidak pernah ada berita polisi masuk sekolah untuk mencari anak ini, lalu menahan mereka dan serahkan ke suatu pihak yang bisa melakkan tindakan nyata untuk membina mereka. Juga tidak ada berita bahwa guru atau orang tua mencari anak ini dan berusaha membinanya sebelum ada anak sekolah lagi yang dibacok atau dibunuh. Kalau mau serius mencari anak ini, foto anak dan nama sekolah bisa ditempatkan di sebuah website, dan polisi bisa minta anak lain dan publik untuk memberikan info nama anak di foto itu ke polisi lewat laporan di website. Tapi sepertinya belum pernah ada tindakan proaktif seperti itu dari polisi atau pemerintah. Hanya bertindak secara serius (untuk 1-2 minggu) setelah ada anak yang dibunuh (seperti di Bulungan setahun yang lalu). Dan setelah tidak menjadi berita heboh lagi, dilupakan saja.</p>
<p>Ini hanya beberapa video yang baru dari tahun ini. Jumlah penonton belum banyak. Video tawuran dari 1-2 tahun yang lalu sudah mendapatkan ratusan ribu penonton. Tahun 2012 saya pernah pasang post seperti ini di blog, dengan banyak contoh dari YouTube. Semua links yang saya berikan itu masih ada dan tidak dihapus oleh Polisi atau Kemenkominfo, padahal menunjukkan kekerasan dan pelanggaran hukum oleh anak di bawah umur. (Seharusnya fakta itu saja memberikan alasan untuk minta YouTube menghapus video itu. Ternyata tidak ada yang berubah). Anak ini sepertinya menjadi BANGGA dengan kekerasan yang mereka lakukan, dan semua orang dewasa dalam kehidupan mereka tidak bisa mencegahnya.</p>
<p>Wassalam,<br />
Gene Netto</p>
<p>Hut Zerman 24 vs ZackTeam 809</p>
<p><span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='750' height='452' src='http://www.youtube.com/embed/nbJqPW2jlCs?version=3&rel=1&fs=1&showsearch=0&showinfo=1&iv_load_policy=1&wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span></p>
<p>Ultah SMP 251 (Irak) Vs SMP 257 (ZhigoSeven)</p>
<p><span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='750' height='452' src='http://www.youtube.com/embed/YNFR65RVszM?version=3&rel=1&fs=1&showsearch=0&showinfo=1&iv_load_policy=1&wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span></p>
<p>STM BHATRIX 492 VS CAMP JAVA 7 + GEMBELAN + WARGA</p>
<p><span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='750' height='452' src='http://www.youtube.com/embed/GrDgnpOhnnU?version=3&rel=1&fs=1&showsearch=0&showinfo=1&iv_load_policy=1&wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span></p>
<p>SMK TRI KARYA VS SMK AN-NUR KLAPANUNGGAL. (di Bogor.)</p>
<p><span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='750' height='452' src='http://www.youtube.com/embed/sxGJ3iuPMiE?version=3&rel=1&fs=1&showsearch=0&showinfo=1&iv_load_policy=1&wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span></p>
<p>Dos’q_5 feat Smk OneChiep 28 vs kartika chandra</p>
<p><span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='750' height='452' src='http://www.youtube.com/embed/RaaboymdhxY?version=3&rel=1&fs=1&showsearch=0&showinfo=1&iv_load_policy=1&wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span></p>
<p>CORDOVA feat PSKD3 vs HUT STM 12 PLO+ ALUMNI</p>
<p><span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='750' height='452' src='http://www.youtube.com/embed/7VNiwjhrUIU?version=3&rel=1&fs=1&showsearch=0&showinfo=1&iv_load_policy=1&wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span></p>
<p>HUT 58 BAMBU APUS TEMBUSIN ZERMAN 24 PASAR REBO (04 MARET 2014)</p>
<p><span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='750' height='452' src='http://www.youtube.com/embed/uroPuQA1QMY?version=3&rel=1&fs=1&showsearch=0&showinfo=1&iv_load_policy=1&wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span></p>
<p>Kalau mau lihat post saya dari 2012 tentang masalah ini, ada di sini. Belum ada perubahan dalam 2 tahun terakhir.<br />
Ratusan Video Tawuran Pelajar di YouTube<br />
<a href=http://genenetto.blogspot.com/2012/10/ratusan-video-tawuran-pelajar-di-youtube.html&#8221; width=”398″ height=”224″ />

  • 14 orang menyukai ini.
  • Rahmatulloh Mardani NaisinKalau yg baik-baik bukan goodnews yg membuat penonton antusias…dan sebaliknya badnews itu baru berita headline news…kerjaan orang-orang media yg cuma cari untung dengan iklan yg mau bayar mahal dengan short time.
  • Harry SantosaDunia pendidikan pasti ngotot tidak mau disalahkan. Orangtua juga ngotot krn merasa hampir fullday anak2 mereka ada di sekolah.
    Warga dan lingkungan juga tidak bertanggungjawab, lha wong komunitas2 sdh lama mati, tinggal kumpulan orang yg kebetulan rum
    ahnya berdekatan. Paling tinggi kerjabakti dan siskamling, itupun kalau bisa bayar tukang, lebih baik bayar.

    Kalau saya tetap ngotot, bhw sistem pendidikanlah penyebab semua kekacauan ini, setidaknya 2 hal

    1. Sistem pendidxikan cuma sistem persekolahan berbasis akademis. Banyak potensi anak yg dihabisi oleh penyeragaman sistem. Anak2 yg tdk berkembang potensinya cenderung kehilangan eksisensi diri. Anak2 yg tdk eksis, mudah bertindak diluar batas wajar agar eksis artifisial

    2. Sistem persekolahan terlalu panjang. Menggegas akademis, tetapi menelantarkan kedewasaan. Usia reproduktif (baligh) pd usia 13-14 thn tidak dibarengi kemampuan produktif dan kemampuan syariah (aqil) . Tiada pengakuan kedewasaan sampai mampu kerja/selesai kuliah di usia 22-23 thn. Islam tidak mengenal usia remaja. Dunia psikolog pun baru kenal istilah remaja pd akhir abad 19. Ini upaya kapitalisme memanjang2kan usia konsumtif.

    Teman saya Alwi Alatas menulis buku yg isinya kliping kenakalan/kesadisan remaja seluruh dunia. Judul asli buku ini, “masa SMA adalah masa yg tdk perlu ada”. Judul ini merangkum kesimpulan buku ini.

    Jarak antara aqil ke baligh dibuat sejauh mungkin oleh para kapitalis juga negara, mereka mengambil mnfaat bisnis dan mengerem kesejahteraan dan kemandirian. Akibatnya twntu saja sekelompok generasi konsumtif, berjiwa anak2, bertubuh orang dewasa.

    Saya kira SD cukup 4 tahun, smp dan sma digabung saja juga 4 tahun, lalu poltek 3 thn atau kuliah 4 tahun. jadi 18 attau 19 sdh mandiri, itupun jika sistem persekolahannya berbais potensi bakat.

    tidak perlu ada usia, nyawa atau airmata terbuang

    Salam

  • Pujo Cahyonoyang Pak Hari sebut di atas, orang tua, dunia pendidikan, warga dan lingkungan, media dll mungkin ini sudah mati rasa…, padahal di sekolah dah ada pendidikan berkarakter, koq begini jadinya…
  • Nesri BaidaniApa sih sebenarnya yg dimaksud pendidikan berkarakter? Yg saya tangkap masih fokus di akademis. Orangtua juga fokusnya ke akademis, kelimpungan kalo anaknya ngga mau belajar, nilainya jelek, ‘terlambat’ bisa baca, masukin anak ke sekolah favorit (bahkan di buku latihan tes masuk SD ada mata ujian Bahasa Inggris) dan seterusnya….
  • Bundo Fazza SatMohon maaf pak Harry Santosa kami mau ikut bicara atas nama dunia sekolah, kami guru-guru yang berada di sekolah yang dianggap sekolah tawuran tidak tinggal diam kok, kami 24 jam pasang mata telinga tentang berita tawuran, kami tidak bosan-bosannya mengingatkan anak-anak kami untuk berada di koridor yang benar, memiliki sikap dan akhlak yang baik, sekolah memfasilitasi siswa untuk mengikuti kegiatan ekskul dan perlombaan kompetensi keahlian. Jadi kami para guru tidak tidur pak. Kemudian apabila kami mendengar ada informasi mengenai tawuran beberapa teman-teman kami dan teman-teman guru dari sekolah lain pun turun ke jalan. Di pemkot kami pun tegas-tegas memberikan ancaman untuk mengeluarkan siswa yg bersangkutan apabila terbukti tawuran. Namun apabila masih saja terjadi hal demikian maka itu diluar kuasa kami pak. Yang jelas pak kami sudah melihat upaya maksimal dari teman-teman guru. Terima kasih pak sebelumnya sudah mengingatkan kami.
  • Nesri BaidaniKetika mengantarkan teman penelitian di salah satu SMK favorit di Semarang, seorang guru menceritakan tawuran sebagai hal yang biasa. Mereka mengantisipasi tawuran dengan bersiaga di saat-saat risiko tinggi tawuran. Biasanya saat selesai ujian, kata guLihat Selengkapnya
  • Harry SantosaBundo Fazza Sat yg shalihah, terimakasih masukannya. Saya tdk bermaksud tdk menghargai jerih payah guru dan sekolah, tetapi sejujurnya guru dan sekolah juga siswa korban dari sistem pendidikan yg memang “rentan” menciptakan generasi “terbuang”.

    Anak2Lihat Selengkapnya

  • Bundo Fazza Sat@pak Harry Santosa : setuju pak kami rasakan sendiri efek dari “kelulusan” yang dipaksakan membuat kami berada pada posisi dilematis, setiap hari kami mengajarkan kejujuran dan orientasi kemampuan namun pada akhirnya kami dihadapkan pada sistem yg memaksa kami agar anak2 lulus dengan nilai berstandar sekian. Sekolah tidak pernah memfasilitasi kebocoran soal tapi kunci jawaban sudah berseliweran kmana mana. Namun sekarang ini yang penting apa yang bisa kita lakukan yang terbaik kita lakukan pak, guru memahami tugasnya bukan hanya mengajarkan pelajaran saja tapi juga mendidik, orangtua menempatkan diri sebagai orang pertama yg membentuk karakter anak, lingkungan masyarakat yang perduli dengan anak2 yang nongkrong di jalan, mengkritisi di sosial media bila ada yang menyimpang, pemerintah perduli dengan pendidikan sehingga dapat membuat sistem pendidikan yang terbaik. Kedengarannya ideal betul pak, namun hal tersebut bisa terlaksana dengan baik atau tidak, kita kembalikan lagi ke diri kita masing-masing. Tinggal rapatkan barisan orang-orang yang memiliki visi sama karena impian tersebut tidak akan pernah terlaksana bila kita kerjakan sendirian…, betul tidak pak?
  • UmriPastinya yg tauran bukan Anak ROHIS,kalo anak ROHIS sholeh/hah dan punya komunitas menghafal al quran..
  • MyName At MyPictureYg tawuran itu coba otomatis dilatih jadi tentara di suatu pulau, lalu kirim mereka untuk perang di negara yang sedang berperang..
    Biar nyawa mereka gag sia2..
  • Alif Purnamaya Allah,,, apa yang ada di benak mereka, sehingga tauran menjadi suatu kebanggan. mereka menanggalkan apa yang mereka pakai. yang mereka lawan itu saudara sendiri, saudara se-ibu pertiwi..
    dimana juga fungsi sekolah, fungsi guru, fungsi orang tua, fungsi pemerintah, fungsi keamanan, ,,,
    rasanya berat melihat kenyataan ini..
  • Harry SantosaUmri yg baik, masalah kenakalan remaja ini hrs menjadi masalah kita bersama. Anak Rohis atau hafidz quran memang biasanya tdk “nakal”, tetapi hasil sistem persekolahan kita bagai “api dalam sekam”, dgn model persekolahan yg melambatkan kedewasaan dan melambatkan usia produktif, gangguan kejiwaannya tdk selalu nampak di awal. Beberapa aktifis rohis yg saya kenal baik, kemudian menjadi “nakal” ketika dewasa, beberapa menjadi oruptor dan hidup lebih bebas dari orang yg tdk kenal agama. Kita berdoa semoga anak2 kita tdk demikian, tetapi kita bersama tdk cukup mensyukuri “untung anak saya anak rohis”, kita hrs lebih jauh memperbaiki sistem pendidikan yg ada.
  • Harry SantosaBundo Fazza Sat saya kira ada ribuan guru2 ikhlash seperti bunda, saya terharu membaca komentar bundo.

    Jarang guru atau pendidik yg mau mengakui dgn jujur “keburukan” sistem persekolahan nasional yg ada, seolah berpura2 tdk ada masalah apa2. Siswanya baik2 aja kok, sdh banyak yg sukses kok dsbnya.

    Banyak yg menutup mata krn khawatir disalahkan, tetapi menurut saya kita semua salah bila mendiamkan saja, setidaknya mengakui bhw memang ada yg salah. Pengakuan jujur ini akan membawa kesadaran dan cita2 perubahan yg besar.

    Saya sering dikecam “menyalah2kan” persekolahan, dianggap merasa “benar sendiri” dll pdhl semangatnya bukan itu ttp mencari akar pendidikan sejati dan membuat perubahan. Dalam perbaikan sistem apapun kita mesti menemukan dan mengakui kesalahan sekecil apapun, apalagi kesalahan besar di depan mata.

    Sistem persekolahan ini bagi banyak keluarga sdh dianggap mirip sembako, kebutuhan wajib, jalan satu2nya menuju masa depan dstnya. Dalam kondisi ini setiap kesalahan yg dibuat sistem persekolahan akan fatal dan berdampak luas bagi perubahan sosial dan budaya.

    Budaya mencontek dan curang serta menghalalkan segala cara di sekolah, apa tidak membuat korupsi menjadi hal yg biasa ketika anak2 kita menjadi dewasa kelak? Kalau 90% orang2 yg bersekolah sekarang ada di kekuasaan dan umumnya berkorupsi, maka statistik manapun dgn jelas bisa memberi korelasi positif bhw sistem persekolahan penyebab korupsi.

    Salam semangat Bundo

  • Guntur WidyaprasetyaPR lebih luasnya adalah, bagaimana kita menanamkan rasa malu dan sedih ketika mereka berbuat suatu kemaksiatan. jelas tuntunannya adalah seorang mukmin harus bersedih saat bermaksiat dan sebaliknya.

    bukan hanya tawuran, dikatakan di sebuah kota besar di INA, ada sebuah gank cewek, yang apabila mendapati salah satu anggotanya masih virgin, maka ybs akan dicemooh dikatakan tidak trendy.

    maka bangga akan kemaksiatan inilah yg harus dihilangkan, hingga tugas selanjutnya adl agar mereka berprestasi dan bangga akan kebaikan dan manfaatnya pada orang lain.

    menurut saya, mereka kurang diberi amanah suatu kebaikan baik dlm lingkungan rumah atau di sekolah. saya pernah mendiskusikan ini pd tmn2 rohis sekolah, agar jeger2 sekolah, anak band, ekskul penari sorak, juga diundang ke acr kajian rutin mereka. harapannya adl agar mereka merasa diharapkan berperan serta dlm mengusung kebaikan.

    tapi kebanyakan cap jelek sudah melekat pada tmn2 yg tampilannya urakan, maka kemudian disatu sisi mereka merasa tidak pantas masuk kajian rohis dan disisi lain anak rohis pun menganggap mereka juga ga pantas ikut kajian mereka.

    maka yg terjadi, keburukannya makin terpupuk, karena mereka merasa punya peran dan andil disitu, punya ‘tempat’ dan dihargai walau dalam wadah kemaksiatan. itulah kenapa, saya sampaikan pada adik2 rohis : kalo kamu ngajak anak yg sudah alim kalem kmdn berhasil masuk rohis, itu mah biasa. yang keren, kalo rohis itu jadi tempat nongkrongnya jeger2 sekolah, anak band, cheerleaders dan tmn2nya

  • Harry SantosaAnalisa menarik mas Guntur Widyaprasetya , di masyarakat kita pengkastaan sosial ini sdh sangat kejam.

    Pengkastaan si pandai dan si bodoh, si cemerlang dan si terbuang, si papan atas dan si papan bawah, si miskin dan si kaya, si juara dan si pecundang, si elite dan si alit, si terpuji dan si nakal, si lulus dan si kw1 dstnya sudah mengintimidasi kehidupan sosial.

    Sistem pendidikan sebgaimana sistem dakwah, seharusnya merubah mindset pengkastaan ini bhw setiap anak itu diciptakan dgn potensi kebaikan dan potensi memberi karya terbaik sesuai keunikannya masing2 sbg bagian tugasnya sbg khalifah. Alangkah Jahatnya bila mengabaikan ini, apalagi cuma dimanipulasi utk kepentingan politis.

  • Mulyaningsih Ekaningtyas1)kita tentu ingat pepatah guru kencing berdiri, murid kencing berlari. guru melarang siswa merokok, terlambat tp anehnya guru melakukan apa yg mereka suruh spt merokok, terlambat, malas mengajar. 2)di sisi lain guru sulit menghukum siswa yg nakal krn alasan HAM. 3) jam pelajaran agama yg sedikit hanya 2 jam/minggu, pelajaran yg menjejali murid sementara guru sendiri dibebani kurikulum yg berat. 4) murid yg nakal adalah mereka yg survive ktk tawuran tp korbannya selalu yg alim, rajin. negara butuh panutan
  • Rahmatulloh Mardani NaisinSaya lihat di KalSel para pemuda/pemudi seusia sekolah SMA sendiri/berkelompok memakai sepeda atau motor pergi sekolah atau kerumah guru ngaji dengan santun berkendaraan dan santun berbicara…itu menunjukkan karakter yg baik …mereka malu kepada lingkungannya bila tidak santun ..rupanya rasa santun tumbuh dari rumah mereka, karena orang tua dan anak-anaknya belajar agama di surau-surau yg dekat atau jauh dari rumah mereka…intinya belajar agama tidak ditinggalkan…beda dengan kota Jakarta yg telah hilang masa-masa spt itu mulai tahun 85-an.
  • MyName At MyPictureMereka itu punya kelebihan:
    -Berani Mati/
  • Harry Santosasaya bukan pesimis mas Rahmatulloh Mardani Naisin , namun lambat laun apa yg terjadi di Jakarta akan merembet ke daerah. Penyebab utamanya saya kira tekanan ekonomi dan tekanan sosial, sementara sstem persekolahan membuat lambat kemandirian dan kedewasaan. Baligh usia 13 tahun, baru dianggap dewasa di usia 23 tahun. Mereka tumbuh tanpa konsepdri yg utuh.
  • Shofie Azizamenyimak para suhu
  • Kusdini Nurdiatidimana peran ulama dan orang”Tua” ekonomi yang menjadikan semua ini….?
  • Vesty Ayu MulyeniKita sadari,permsalahan ini tentunya menjadi akar dr semua aktifitas amoral d masa kemudian.psikologi anak d mulai dr kandungan,kmudian keluaraga dan lingkungan.Yg mjd modal si anak,ya didikan ortu/wali mereka.hingga dpt membekali dri.Nah,kalo bahan mentah moral si anak g bgus dr ortunya.Gmana mw brkualitas.Sedang etika,sopan santun adlh tanggungjwb mreka org tua.Shingga pendidik d skolah g super extra merombak karakter dn pola pikir si anak mjd dri yg lbh baik.Apalgi guru2 skrg d dominasi ibu2,yg punya segudang pikiran tugasny pula sbg ibu d rmh tngga.Alhasil,yg penting akademik penuh,dn tepat wktu pengumpulan.Kerusakan sistem pndidikn jg sudah menyebar.Di desa2 sdh membudaya jual sebar kunci,mirisnya bersumber dr pendidik itu sndri.Kalo d tanya pd oknum,jawabnya simpel “Demi sekolah kita,supaya dpt ranking bgus dan bnyk lg siswa yg mendaftar” Jd skrg SDM kita bnr2 kritis…!!!
  • Harry SantosaItulah bunda Vesty Ayu Mulyeni , daripada saling mengandalkan antara sekolah dan rumah, saya lebih cenderung bahkan yakin utk melakukan gerakan mengembalikan pendidikan ke rumah dan kpd jama’ah orangtua.

    Persekolahan terlalu sibuk dgn target2 diknas yg berorientasi akademis. Segala hal indah dan baik yg dibangun guru2 kreatif sekalipun akan runtuh ketika berhadapan dgn target lulus dan tidak lulus, target nilai dan ranking sekolah. Kemudian kita tdk bisa bilang “kan sudah saya didik”. Pendidikan mesti berkesinambungan antara tujuan, cara dan metode.

  • Vesty Ayu MulyeniSaya setuju pokoknya!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 939 pengikut lainnya.